Rabu, 18 Januari 2017

Terminologi Computer Based Instruction (CBI)

Penggunaan teknologi pembelajaran dalam proses pembelajaran memiliki beragam manfaat. Beberapa alasan penggunaan teknologi dalam pembelajaran seperti yang dipaparkan Roblyer (2006) antara lain untuk memotivasi siswa, untuk meningkatkan proses pembelajaran, membuat siswa dan guru bekerja lebih produktif, membantu siswa belajar dan mempetajam keterampilan era informasi mereka. Salah satu teknologi yang kerap digunakan adalah komputer.
Sejak tahun 1950an penggunaan komputer mulai diperluas ke dalam dunia pendidikan. Pegiat teknologi pemdidikan mulai mengembangkan program penggunaan komputer dalam pengajaran yang dikenal dengan istilah computer-based instruction (CBI) untuk melatih, mengajar, menguji siswa, dan untuk mengatur program pembelajaran. Pengertian CBI itu sendiri menurut Criswell (1989) adalah penggunaan komputer untuk menyajikan materi pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berpartisipasi secara aktif dan merespon aktivitas peserta didik. Pendapat lain dikemukakan oleh Kemp & Dayton (1985) sebagai berikut.
Computer Based Instruction refers to any application of computer technology to the instructional process. It includes using a computer to present information, to tutor a learner, to provide practice for developing a skill, to simulate a process which is being studied, and manipulate to solve problem.

Jadi istilah computer based instruction (CBI) umumnya menunjuk pada semua software pendidikan yang diakses melalui komputer dimana peserta didik dapat berinteraksi dengannya. Sistem komputer menyajikan serangkaian program pengajaran kepada peserta didik baik berupa informasi maupun latihan soal untuk  mencapai tujuan pengajaran tertentu dan peserta didik melakukan aktivitas belajar dengan cara berinteraksi dengan sistem komputer.
Terdapat beragam terminologi berkaitan CBI diantaranya computer-assisted instriction (CAI), computer-aided instruction (CAI), computer-based learning (CBL), computer-assisted learning (CAL), dan instilah-istilah lainnya. Termiologi ini masih dalam perdebatan karena berbagai peneliti mengartikan hal tersebut secara berbeda-beda. Salah satu pengertian yang umum ditemukan adalah CAI (computer-assisted learning) dikonotasikan sebagai pendekatan belajar terprogram yang tujuan pendidikannya diraih melalui pengajaran langkah demi langkah. Seringkali CAI diartikan sebagai komputer yang menyampaikan informasi pada siswa. CAI menuntun siswa untuk menggunakan komputer di kelas baik dalam hal tutorial software maupun drill and practice, sedangkan CBI (computer-based instruction) adalah sebuah pembelajaran terprogram yang menggunakan komputer sebagai sarana utama atau alat bantu yang mengkomunikasikan materi kepada siswa. Perbedaan yang mendasar terdapat pada proses pembelajarannya. Pada CAI (computer-assisted learning) peran guru tidak semuanya dihilangkan dan komputer hanya beperan sebagai pendamping guru dalam menyampaikan materi, sedangkan pada CBI komputer menjadi pusat pembelajaran (center of learning) dimana siswa berperan lebih aktif dalam mempelajari suatu materi dengan media utama yakni komputer.
Adapun Kulik & Kulik (1991) memandang CBI lebih luas cakupannya dibandingkan dengan CAI (computer-assisted learning). Kulik & Kulik (1991) membagi tipe kelompok CBI sebagai berikut.
1.      Computer-assisted instruction (CAI), dimana komputer menyediakan drill-and-practice exercises tetapi bukan materi yang baru, atau tutorial instruction yang memuat materi yang baru.
2. Computer-managed instruction (CMI), dimana komputer mengevaluasi kinerja siswa, membimbing siswa kepada sumber pembelajaran yang cocok, dan terus mencatat proses siswa.

3.   Computer-enriched instruction (CEI), dimana (a) komputer berlaku sebagai sebuah problem solving tool, (b) menggeneralisasikan data sesuai permintaan siswa untuk mengilustasikan hubungan suatu model, (c) mengeksekusi program yang dikerjakan oleh siswa.

Referensi:
Criswell, E. L. (1989). The Design of Computer Based Instruction. New York:  Macmillan Publishing Company
Kemp, J. E. & Dayton, D. K. (1985). Planning and Producing Instructional Media.  New York: Harper & Row Publisher Cambridge
Roblyer, M. D. (2006). Integrating Educational Technology into Teaching 4th Ed. New Jersey: Pearson Prentice Hall
Kulik & Kulik, nyari sendiri yah, itu jurnalnya gratis.

Minggu, 05 Juni 2016

Kesalahan Umum dalam Menilai menggunakan Rubrik


Rubrik merupakan seperangkat aturan/pedoman yang terdiri dari kriteria kinerja (performance criteria) dan skala penilaian (rating scale) untuk membedakan level kecakapan siswa yang digunakan sebagai acuan untuk menilai kualitas dari performa siswa sehingga penilaian tersebut tetap konsisten. 
Namun dalam proses penilaiannya, tetap saja sering terjadi kesalahan. Kesalahan umum yang sering terjadi antara lain:
  •  Leniency error, terjadi ketika seorang penilai cenderung menilai semua kategori pada level tinggi, menghindari level rendah.
  • Severity error, adalah kesalahan yang berlawanan dari leniency error.
  •  Central tendency error, terjadi ketika seorang penilai ragu atau takut menggunakan extremes scale (tinggi atau rendah) and hanya menggunakan middle scale (skala penilaian diantara paling tinggi dan paling rendah).
  • Halo effect, terjadi ketika kesan umum seorang penilai terhadap seorang peserta ikut mempengaruhi penilainnya.
  • Personal bias, muncul jika seorang penilai cenderung menilai berdasarkan stereotip yang tidak relevan dari peserta, misalkan menilai pria lebih bagus daripada wanita, berkulit putih lebih bagus daripada yang lainnya, penilaian berdasarkan suku atau agama, dan lain sebagainya.
  •  A logical error, terjadi jika penilai memberikan nilai yang sama pada dua atau lebih dimensi dari performa yang diyakininya secara logika saling berhubungan padahal pada faktanya tidak berhubungan sama sekali.
  • Rater drift, muncul ketika dalam penilaian, penilai mendefenisikan sendiri isi rubrik berdasarkan pemahaman mereka.
  • Reliability decay, merupakan kesalahan instrumen dimana instrumen penilaian tidak dapat memberikan hasil yang konsisten.




Rabu, 10 Februari 2016

Miskonsepsi Gaya Apung



Saat kita mengangkat benda di dalam air akan terasa lebih enteng daripada mengangkat benda di udara. Mengapa hal tersebut dapat terjadi? Banyak yang akan menjawab, “karena berat benda yang berada dalam air lebih kecil daripada berat benda di udara”. Atau, “berat benda berkurang ketika dimasukan ke dalam air”. Benarkah?



Untuk menjawabnya mari kita ingat kembali, apa itu berat? Berat benda (w) merupakan gaya yang dialami benda akibat pengaruh gaya tarik bumi (gaya gravitasi). Besar gaya tersebut bergantung pada massa benda  (m) dan besar percepatan gravitasi (g) di tempat beda tersebut berada.

w = m . g 

Hal ini menunjukkan bahwa berat benda akan selalu tetap selama massa benda dan percepatan gravitasi tidak berubah. Berat yang terukur dari sebuah benda dalam zat cair merupakan berat semu yang merupakan resultan gaya berat benda (wb) dan gaya apung/gaya ke atas (Fa), karena sesuai dengan hukum Archimedes, “sebuah benda yang tercelup sebagian atau seluruhnya ke dalam zat cair akan mengalami gaya ke atas sebesar berat zat cair yang dipindahkannya”,


di mana besar gaya apung bergantung pada massa jenis zat fluida (zat cair), besar percepatan gravitasi, dan volume zat cair yang terdesak oleh volume benda yang tercelup.


Sebenarnya berat benda diukur menggunakan dinamometer di udara sekalipun adalah berat semu, namun karena massa jenis udara sangat kecil, gaya apungnya juga kecil sehingga diabaikan.  Jadi, merupakan suatu kekeliruan jika dikatakan berat benda berkurang ketika dimasukan ke dalam zat cair.